Semangat dalam hati bercita-cita mendedikasikan hari libur terakhir dengan menulis sesuatu yang sedikit berfaedah. Tapi apa daya. Langit mendung, cuaca dingin, perut kenyang, seprei baru ganti. Tidak ada alasan lagi untuk tidak ngapain-ngapain. Halo rebahan bye cita-cita! semoga waktu bergulir lambat.
Tidaklah mengapa seorang hamba mengharapkan imbalan kepada tuhan atas perintah-Nya (?). Menjalankan ibadah karena pamrih ingin masuk surga atau terhindar neraka. Sepertinya ini merupakan sifat/fitrah hamba sebagai seorang manusia biasa. Doktrin yang telah lama hinggap di benak. Doktrin itu benar dan tidak salah. Tapi otak hamba yang kecil dan fakir pengetahuan bertanya: "Apakah hanya sebatas itu hubungan hamba dengan tuhannya?" . Hubungan yang transaksional. Ibadah seperti salat hanya sebatas gerakan yang berulang, miskin spiritual. Rasanya terlalu singkat waktu di dunia untuk itu. Bolehkah dan mungkinkah hamba merasa butuh atas hubungan ini? layaknya hamba makan karena lapar, bukan semata karena perintah.